Lando Norris dan Max Verstappen Kritik F1: Pembalap “Terjebak” Power Unit di GP Jepang
Lando Norris dan Max Verstappen mengkritik kualitas balapan Formula 1 setelah Grand Prix Jepang di Suzuka, dengan menyebut para pembalap kini terlalu bergantung pada power unit dan sistem baterai. Menurut keduanya, kondisi tersebut membuat aksi salip-menyalip menjadi kurang alami dan tidak mencerminkan balapan yang sesungguhnya.
Pembalap McLaren, Lando Norris, bahkan mengaku sempat tidak ingin menyalip Lewis Hamilton, namun sistem mobil membuatnya tetap melakukannya secara otomatis.
Lando Norris: “Ini Bukan Balapan, Ini Yo-Yo”
Pada balapan di Suzuka, Norris finis di posisi kelima. Ia menganggap hasil tersebut sebagai tanda kemajuan bagi McLaren, terutama setelah performa kuat dari rekan setimnya, Oscar Piastri.
Namun, Norris menilai kualitas balapan secara keseluruhan masih jauh dari ideal.
Menurut Norris, sistem battery deploy pada mobil Formula 1 saat ini membuat pembalap kehilangan kontrol penuh atas mobil mereka.
Ia menjelaskan bahwa saat mencoba menyalip Lewis Hamilton, sistem mobil justru secara otomatis mengaktifkan tenaga tambahan dari baterai. Akibatnya, Norris berhasil menyalip, tetapi kemudian kehilangan energi dan kembali disalip dengan mudah.
Situasi ini disebutnya sebagai efek yo-yo, di mana pembalap saling menyalip bukan karena strategi atau skill, melainkan karena manajemen energi baterai.
Norris juga menambahkan bahwa kondisi tersebut membuat pembalap seperti berada di bawah kendali mesin, bukan sebaliknya.
Menurutnya, pembalap seharusnya memiliki kontrol penuh atas penggunaan tenaga tambahan, namun saat ini hal tersebut belum terjadi.
Masalah Terjadi Saat Mode Overtake Aktif
Norris menjelaskan bahwa masalah ini biasanya muncul ketika pembalap berada dalam jarak satu detik dari mobil di depan dan sistem overtake mode aktif.
Dalam situasi tersebut, ia sempat menyalip Hamilton di chicane terakhir Suzuka. Namun, karena baterai terkuras, Hamilton kembali menyalip di trek lurus utama.
Ia juga menyoroti bagaimana sistem deploy baterai aktif di tikungan cepat seperti 130R, yang membuatnya harus mengurangi kecepatan agar tidak terlalu dekat dengan mobil di depan.
Akibatnya, baterai kembali terkuras dan Norris tidak memiliki energi cukup untuk mempertahankan posisi di trek lurus berikutnya.
Menurutnya, situasi tersebut membuat pembalap tidak memiliki banyak pilihan saat bertahan atau menyerang.
Max Verstappen Setuju: Layout Suzuka Memperparah Masalah
Max Verstappen juga memiliki pandangan serupa. Pembalap Red Bull itu menilai bahwa layout Suzuka memperlihatkan dengan jelas masalah manajemen energi pada mobil Formula 1 saat ini.
Suzuka memiliki trek lurus panjang yang diikuti chicane pendek dan kemudian trek lurus panjang lainnya. Hal ini membuat pembalap kesulitan mengisi ulang baterai setelah melakukan serangan.
Verstappen menjelaskan bahwa jika pembalap menggunakan baterai di satu trek lurus, mereka akan kehilangan energi di trek lurus berikutnya.
Hal ini membuat pembalap menjadi sangat berhati-hati dalam melakukan manuver menyalip.
Ia juga menambahkan bahwa di beberapa sirkuit lain, pembalap masih memiliki waktu untuk mengisi ulang energi melalui beberapa tikungan. Namun di Suzuka, peluang tersebut sangat terbatas.
Sulit Menyalip di Tempat yang Biasanya Mudah
Menurut Verstappen, kondisi ini membuat banyak titik menyalip tradisional menjadi tidak efektif. Pembalap tidak bisa memanfaatkan peluang karena harus mempertimbangkan sisa energi baterai.
Akibatnya, aksi salip-menyalip menjadi kurang natural dan lebih bergantung pada sistem mobil.
Norris juga berharap FIA dapat memperbaiki situasi ini di masa depan. Ia mengakui bahwa balapan mungkin terlihat menarik di televisi, namun dari dalam kokpit, pengalaman balapan terasa kurang autentik.
FIA Diharapkan Lakukan Perbaikan
Kritik dari Norris dan Verstappen ini menambah daftar masukan dari pembalap terkait regulasi teknis Formula 1 modern.
Keduanya berharap FIA dapat menemukan solusi agar pembalap memiliki kontrol lebih besar terhadap mobil mereka, sehingga balapan kembali lebih kompetitif dan alami.
Dengan semakin kompleksnya teknologi Formula 1, tantangan ke depan adalah menjaga keseimbangan antara inovasi teknis dan kualitas balapan yang menarik bagi pembalap maupun penggemar.

